Read more
Ipapnews.com, Canberra - Tidak satu pun ancaman dalam hidupnya membuat Mahir Momand mengurungkan niat menolong orang lain. Bahkan ancaman memacunya lebih hebat.
CEO Thrive Refugee Enterprise ini menolong orang-orang dari latar belakang pengungsi dan pencari suaka untuk memulai bisnis di Australia lewat pembiayaan mikro atau kredit untuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Sebagai seorang pengungsi, Mahir tidak hanya paham pentingnya mencari tempat yang aman untuk tinggal, tapi juga menemukan tujuan hidup melalui kerja yang penuh makna.
Membantu EkonomiAfghanistan
Mahir bekerja untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2001 untuk membantu memulangkan sekitar 2,4 juta pengungsi yang keluar dari Afghanistan setelah beberapa dekade perang.
Namun mereka kembali ke negara yang sama sekali tidak menyediakan kesempatan ekonomi.
"Masalahnya ketika itu mereka membawa masuk banyak orang, tapi tidak terlalu memikirkan tentang apa yang bakal orang-orang itu kerjakan," kata Mahir.
Sebuah kesempatan muncul ketika Bank Dunia yang beroperasi kembali tahun 2002 setelah absen lebih dari dua dekade di Afghanistan. Bank Dunia mulai "mencari mencari jalan untuk mengembangkan ekonomi Afghanistan."
Mahir dan timnya mulai menyediakan pinjaman kecil untuk petani, perempuan, dan orang yang menjalankan bisnis di dua dari 34 provinsi di Afghanistan.
"Beberapa petani yang punya akses terhadap air menanam opium," kata Mahir.
"Sayangnya, Afghanistan memasuk cukup besar pasokan opium dunia. Jadi kami memberi pinjaman agar mereka menanam yang lain seperti saffron (sejenis kunyit yang mahal), yang memberi mereka penghasilan lebih banyak daripada menanam opium."
Lantas Taliban menyadari kesuksesan program ini dan menyebut praktik kredit mikro ini tidak Islami. Mahir melarikan diri ke Kanada setelah beberapa kali hidupnya terancam.
"Ide besarnya adalah untuk menggunakan kredit, atau kredit mikro, untuk tujuan pembangunan. Agar orang bekerja. Untuk menciptakan pekerjaan. Jadi orang tidak harus mengharapkan komunitas donor internasional datang dan memberikan bantuan."
Mahir berpikir lama dan keras tentang caranya menjalankan bisnis di Afghanistan. Lantas ia pun memutuskan untuk kembali dan mencoba pendekatan berbeda, yang lebih sejalan dengan nilai lokal.
Program yang baru sepuluh kali lebih sukses dari percobaan pertama, berekspansi ke 17 provinsi dengan karyawan 1.200 orang.
Lari dariTaliban
Serangan dari Taliban pun membesar. "Kami menemukan masalah sebenarnya dari memberikan pinjaman kecil bagi orang yang memiliki bisnis adalah kami menjauhkan diri dari perlindungan pemberontak Taliban. Karena mereka orang-orang yang dipakai Taliban untuk tujuan pemberontakan," kata Mahir.
"Dengan memberi pinjaman kepada petani untuk berbudidaya seperti saffron, yang akan memberi mereka uang, kami memotong penghasilan Taliban.
"Sangat naif ketika di Kanada saya berpikir untuk kembali dan membuat program baru yang lebih sesuai dengan nilai lokal, dan masalah secara ajaib akan hilang."
Mahir kehilangan beberapa koleganya karena Taliban, dan sekali lagi hidupnya sendiri terancam.
"Pada tahun 2012 saya diserang dan keamanan saya mengevakuasi dan membawa saya keluar dari Afghanistan."
Membantu lewat kredit mikro
Mahir akhirnya sampai di Australia, tapi berjuang untuk hidup mapan. "Ketika datang ke sini saya didiagnosa PTSD (gangguan kejiwaan pasca trauma) dan itu mengambil efisiensi saya sebagai seorang pebisnis."
Dia melihat sebuah iklan lowongan pekerjaan untuk CEO sebuah bisnis pembiayaan mikro untuk menolong pengungsi. Mahir berpikir dirinya orang yang tepat untuk posisi itu.
"Saya menulis ke mereka, 'Lihat, saya punya pengalaman tentang kredit mikro, dan saya juga punya pengalaman menjadi pengungsi'," kata Mahir.
"Dengan terlibat pada pekerjaan membuat saya kembali kembali menjadi normal."
Thrive berdiri tahun lalu dan telah menolong lebih dari 50 perusahaan.
"Saya pikir di Australia kita perlu fokus pada seluruh masalah pengungsi dari dinamikanya atau dari sudut pandang ekonomi.
"Orang mungkin duduk saja di rumah dan mungkin mereka menerima tunjangan Centrelink, dan tidak terlibat dalam aktivitas ekonomi. Dalam banyak kasus, itu menjadi tidak terhormat. Tidak terhormat, kalau dipikir mereka biasa bekerja tapi di sini mereka tidak bisa bekerja," jelas Mahir.
"Tujuannya adalah untuk membuat orang menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri."
Thrive membantu kliennya memahami apa yang diperlukan untuk memulai bisnis kecil di Australia, membantu membuat rencana bisnis, rencana pemasaran, dan prediksi neraca keuangan.
"Saat kami yakin bisnis itu akan punya kesempatan untuk sukeses, kami pun meminjamkan kredit mikro," kata Mahir.
Pendampingan klien pasca pinjaman juga bagian penting dari yang ditawarkan perusahaannya.
"Ini tidak hanya untuk membantu mereka untuk memahami dan menyusun rencana bisnis bersama lalu meminjamkan kepada mereka kami ada bersama mereka dalam perjalanan itu untuk memastikan usaha mereka bisa bertahan, berkembang, dan mereka keluar dari periode kritis itu.
"Fantastis melihat bahwa lewat model kredit mikro itu kami membuat perubahan di sini," katanya. "Semua orang butuh sebuah awal."
Diterjemahkan oleh Alfred Ginting pada Kamis 22 Juni 201 dari artikel di Australia Plus dalam rangka Refugee Weekyang berlangsung 18 24 Juni 2017.
Refugee Week bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah yang memengaruhi pengungsi dan merayakan sumbangan positif pengungsi bagi masyarakat Australia.
CEO Thrive Refugee Enterprise ini menolong orang-orang dari latar belakang pengungsi dan pencari suaka untuk memulai bisnis di Australia lewat pembiayaan mikro atau kredit untuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Sebagai seorang pengungsi, Mahir tidak hanya paham pentingnya mencari tempat yang aman untuk tinggal, tapi juga menemukan tujuan hidup melalui kerja yang penuh makna.
Membantu EkonomiAfghanistan
Mahir bekerja untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2001 untuk membantu memulangkan sekitar 2,4 juta pengungsi yang keluar dari Afghanistan setelah beberapa dekade perang.
Namun mereka kembali ke negara yang sama sekali tidak menyediakan kesempatan ekonomi.
"Masalahnya ketika itu mereka membawa masuk banyak orang, tapi tidak terlalu memikirkan tentang apa yang bakal orang-orang itu kerjakan," kata Mahir.
Sebuah kesempatan muncul ketika Bank Dunia yang beroperasi kembali tahun 2002 setelah absen lebih dari dua dekade di Afghanistan. Bank Dunia mulai "mencari mencari jalan untuk mengembangkan ekonomi Afghanistan."
Mahir dan timnya mulai menyediakan pinjaman kecil untuk petani, perempuan, dan orang yang menjalankan bisnis di dua dari 34 provinsi di Afghanistan.
"Beberapa petani yang punya akses terhadap air menanam opium," kata Mahir.
"Sayangnya, Afghanistan memasuk cukup besar pasokan opium dunia. Jadi kami memberi pinjaman agar mereka menanam yang lain seperti saffron (sejenis kunyit yang mahal), yang memberi mereka penghasilan lebih banyak daripada menanam opium."
Lantas Taliban menyadari kesuksesan program ini dan menyebut praktik kredit mikro ini tidak Islami. Mahir melarikan diri ke Kanada setelah beberapa kali hidupnya terancam.
"Ide besarnya adalah untuk menggunakan kredit, atau kredit mikro, untuk tujuan pembangunan. Agar orang bekerja. Untuk menciptakan pekerjaan. Jadi orang tidak harus mengharapkan komunitas donor internasional datang dan memberikan bantuan."
Mahir berpikir lama dan keras tentang caranya menjalankan bisnis di Afghanistan. Lantas ia pun memutuskan untuk kembali dan mencoba pendekatan berbeda, yang lebih sejalan dengan nilai lokal.
Program yang baru sepuluh kali lebih sukses dari percobaan pertama, berekspansi ke 17 provinsi dengan karyawan 1.200 orang.
Lari dariTaliban
Serangan dari Taliban pun membesar. "Kami menemukan masalah sebenarnya dari memberikan pinjaman kecil bagi orang yang memiliki bisnis adalah kami menjauhkan diri dari perlindungan pemberontak Taliban. Karena mereka orang-orang yang dipakai Taliban untuk tujuan pemberontakan," kata Mahir.
"Dengan memberi pinjaman kepada petani untuk berbudidaya seperti saffron, yang akan memberi mereka uang, kami memotong penghasilan Taliban.
"Sangat naif ketika di Kanada saya berpikir untuk kembali dan membuat program baru yang lebih sesuai dengan nilai lokal, dan masalah secara ajaib akan hilang."
Mahir kehilangan beberapa koleganya karena Taliban, dan sekali lagi hidupnya sendiri terancam.
"Pada tahun 2012 saya diserang dan keamanan saya mengevakuasi dan membawa saya keluar dari Afghanistan."
Membantu lewat kredit mikro
Mahir akhirnya sampai di Australia, tapi berjuang untuk hidup mapan. "Ketika datang ke sini saya didiagnosa PTSD (gangguan kejiwaan pasca trauma) dan itu mengambil efisiensi saya sebagai seorang pebisnis."
Dia melihat sebuah iklan lowongan pekerjaan untuk CEO sebuah bisnis pembiayaan mikro untuk menolong pengungsi. Mahir berpikir dirinya orang yang tepat untuk posisi itu.
"Saya menulis ke mereka, 'Lihat, saya punya pengalaman tentang kredit mikro, dan saya juga punya pengalaman menjadi pengungsi'," kata Mahir.
"Dengan terlibat pada pekerjaan membuat saya kembali kembali menjadi normal."
Thrive berdiri tahun lalu dan telah menolong lebih dari 50 perusahaan.
"Saya pikir di Australia kita perlu fokus pada seluruh masalah pengungsi dari dinamikanya atau dari sudut pandang ekonomi.
"Orang mungkin duduk saja di rumah dan mungkin mereka menerima tunjangan Centrelink, dan tidak terlibat dalam aktivitas ekonomi. Dalam banyak kasus, itu menjadi tidak terhormat. Tidak terhormat, kalau dipikir mereka biasa bekerja tapi di sini mereka tidak bisa bekerja," jelas Mahir.
"Tujuannya adalah untuk membuat orang menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri."
Thrive membantu kliennya memahami apa yang diperlukan untuk memulai bisnis kecil di Australia, membantu membuat rencana bisnis, rencana pemasaran, dan prediksi neraca keuangan.
"Saat kami yakin bisnis itu akan punya kesempatan untuk sukeses, kami pun meminjamkan kredit mikro," kata Mahir.
Pendampingan klien pasca pinjaman juga bagian penting dari yang ditawarkan perusahaannya.
"Ini tidak hanya untuk membantu mereka untuk memahami dan menyusun rencana bisnis bersama lalu meminjamkan kepada mereka kami ada bersama mereka dalam perjalanan itu untuk memastikan usaha mereka bisa bertahan, berkembang, dan mereka keluar dari periode kritis itu.
"Fantastis melihat bahwa lewat model kredit mikro itu kami membuat perubahan di sini," katanya. "Semua orang butuh sebuah awal."
Diterjemahkan oleh Alfred Ginting pada Kamis 22 Juni 201 dari artikel di Australia Plus dalam rangka Refugee Weekyang berlangsung 18 24 Juni 2017.
Refugee Week bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah yang memengaruhi pengungsi dan merayakan sumbangan positif pengungsi bagi masyarakat Australia.




0 Reviews