Read more
| Foto Ilustrasi HIV |
Suthida Sangsumart mengatakan, akibat diagnosis yang keliru itu dia harus minum obat anti-virus. Dia juga mendapat stigma buruk dari masyarakat.
Dia berbicara setelah menjalani tes darah di Klinik Anonim Palang Merah Thailand pada hari Kamis.
Dia mengizinkan wartawan untuk melihat tes darah dan menunggunya untuk mendapatkan hasilnya. Dia didampingi pengacaranya, Songkran Achariyasab ke klinik tersebut.
Dia menangis ketika dokter klinik mengungkapkan hasil dua tes darah yang mengonfirmasikan keyakinannya bahwa dia tidak menderita HIV.
(Baca Juga: Salah Diagnosis HIV Selama 12 Tahun, Masa Kecil Wanita Thailand Ini Hancur)
Dia sebelumnya telah melakukan tes di rumah sakit lain untuk mendapatkan hasil yang resmi.
Ayahnya meninggal karena AIDS saat dia berusia delapan tahun. Saat itu, seorang dokter di Rumah Sakit Suvarnabhumi di Provinsi Roi Et menguji darahnya dan mendiagnosis dirinya mengidap HIV.
Suthida juga menginginkan tindakan disiplin yang ketat terhadap para dokter di rumah sakit yang salah mendiagnosis dirinya.
”Saya mulai minum obat penyakit HIV sejak saat itu. Saya harus pindah ke provinsi Samut Prakarn setelah orang-orang di kampung halaman saya tidak menyukai saya karena alasan kematian ayah saya dan diagnosis dokter bahwa saya menderita AIDS,” katanya yang dikutip dari The Nation, Minggu (4/6/2017).
Menurutnya, sang suami tidak peduli dengan penyakit itu. Dia menjalani tes lagi saat dia hamil di usia 19 tahun. ”Saya kemudian ragu bahwa tes pertama mungkin salah,” ujarnya.
Setelah terbebas dari penyakit itu, dia ingin rumah sakit bertanggung jawab atas kesalahannya.
Wartawan yang mengunjungi rumah sakit di Roi Et dan mencoba menghubungi direkturnya, Dr Chuchai Temtanakitpaisarn. Namun, dia memberi tahu bahwa dirinya sedang pergi menghadiri sebuah pertemuan di luar rumah sakit.



0 Reviews