Read more
Ipapnews.com, Jakarta - Saking asyiknya menonton TV, banyak orang yang tak sadar jika dirinya sudah berjam-jam di depan layar. Tanpa sadar pula kebiasaan ini membawa 'penyakit' untuk dirinya sendiri.
Hal ini diungkapkan peneliti dari University of Queensland setelah mengamati 2.000-an partisipan berusia 47-85 tahun selama 12 tahun.
Sepertiga partisipan termasuk ke dalam kelompok sedang, di mana mereka bisa menghabiskan waktu menonton TV 10 jam perpekan hingga 20 jam perpekan.
Sedangkan mereka yang menonton TV kurang dari lima jam perpekan berjumlah 9,7 persen, dan 5,2 persen lainnya berada di kelompok dengan kebiasaan menonton TV terbanyak yaitu lebih dari 30 jam perpekan.
Belakangan peneliti menemukan, partisipan yang menghabiskan waktu kurang dari lima jam dalam sepekan memiliki kekuatan otot tubuh bagian bawah yang lebih baik daripada mereka yang menonton TV lebih dari 30 jam perpekan. Artinya selepas studi partisipan rata-rata mudah terjatuh atau memiliki tingkat keseimbangan yang rendah.
"Dari tes kekuatan lutut yang kami lakukan, mereka yang gemar menonton TV memiliki performa yang selalu buruk dibanding kelompok lain," ungkap peneliti, Natasha Reid seperti dilaporkan ABC Australia.
Sayangnya dalam kurun waktu studi selama 12 tahun tersebut peneliti menemukan partisipan yang menambah atau mengurangi durasi menonton TV mereka secara moderat tidak lantas memperlihatkan perubahan fisik yang signifikan.
Artinya, jika ingin mencegah dampak terburuk dari kebiasaan menonton TV terlalu lama, maka upayanya harus 'ekstrem'.
"Toh studi-studi sebelumnya juga membuktikan bahwa kebanyakan nonton TV dan duduk berdampak sangat buruk bagi kesehatan kardiovaskular dan kesehatan mental, tetapi tanpa disadari ini juga mempengaruhi fungsi fisik seperti keseimbangan dan kecepatan saat berjalan di usia senja," pungkasnya.
Hal ini diungkapkan peneliti dari University of Queensland setelah mengamati 2.000-an partisipan berusia 47-85 tahun selama 12 tahun.
Sepertiga partisipan termasuk ke dalam kelompok sedang, di mana mereka bisa menghabiskan waktu menonton TV 10 jam perpekan hingga 20 jam perpekan.
Sedangkan mereka yang menonton TV kurang dari lima jam perpekan berjumlah 9,7 persen, dan 5,2 persen lainnya berada di kelompok dengan kebiasaan menonton TV terbanyak yaitu lebih dari 30 jam perpekan.
Belakangan peneliti menemukan, partisipan yang menghabiskan waktu kurang dari lima jam dalam sepekan memiliki kekuatan otot tubuh bagian bawah yang lebih baik daripada mereka yang menonton TV lebih dari 30 jam perpekan. Artinya selepas studi partisipan rata-rata mudah terjatuh atau memiliki tingkat keseimbangan yang rendah.
"Dari tes kekuatan lutut yang kami lakukan, mereka yang gemar menonton TV memiliki performa yang selalu buruk dibanding kelompok lain," ungkap peneliti, Natasha Reid seperti dilaporkan ABC Australia.
Sayangnya dalam kurun waktu studi selama 12 tahun tersebut peneliti menemukan partisipan yang menambah atau mengurangi durasi menonton TV mereka secara moderat tidak lantas memperlihatkan perubahan fisik yang signifikan.
Artinya, jika ingin mencegah dampak terburuk dari kebiasaan menonton TV terlalu lama, maka upayanya harus 'ekstrem'.
"Toh studi-studi sebelumnya juga membuktikan bahwa kebanyakan nonton TV dan duduk berdampak sangat buruk bagi kesehatan kardiovaskular dan kesehatan mental, tetapi tanpa disadari ini juga mempengaruhi fungsi fisik seperti keseimbangan dan kecepatan saat berjalan di usia senja," pungkasnya.




0 Reviews