Read more
KUMPARAN.COM.Kepolisian memastikan bahwa Tanita Felicia (24) yang
kabur saat hendak ditilangm lalu menabrak pemotor di Bundaran HI, Jakarta
Pusat, tidak mengkonsumsi narkoba. Namun, Felicia mengidap gangguan bipolar
berdasarkan keterangan dari orang tua mahasiswi itu.
"Orang tua (Felicia) datang dan kita interograsi,
kita mintakan keterangan. Bahwa yang bersangkutan ini mempunyai penyakit
bipolar," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Polda
Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (22/11).
Lantas, sebenarnya apa itu gangguan bipolar?
Mengutip informasi dari komunitas penderita bipolar,
Bipolar Care Indonesia, gangguan bipolar adalah gangguan mood, penderitanya
mengalami perubahan mood yang ekstrem antara mania (senang sekali) dan depresi
(sedih sekali). Kedua hal yang sangat bertolak belakang tersebut datang silih
berganti, kadang ada periode normal di antaranya.
Untuk fase mania ditandai dengan suasana hati secara
signifikan. Keadaan ini menyebabkan penderita gangguan bipolar yang
mengalaminya merasa sangat gembira yang berlebihan, sangat bersemangat,
enerjik, dan sangat aktif.
"Memiliki banyak ide, merasa tidak perlu tidur,
melakukan banyak aktivitas secara bersamaan, melakukan tindakan berisiko,
membelanjakan uang berlebih, atau boros, dan berpenampilan berlebihan,"
tulis Bipolar Care Indonesia di situsnya.
Sementara untuk fase depresi, ada penurunan suasana
hati secara signifikan seperti murung, menarik diri, merasa sedih, dan tidak
bergairah. Bisa juga mudah tersinggung, tidak berminat melakukan hal yang
menyenangkan dan adanya dorongan untuk bunuh diri.
"Penyebab diduga karena genetik, biologis
(ketidakseimbangan zat kimia otak), psikologis (pola asuh), dan
lingkungan," lanjut Bipolar Care Indonesia.
Gangguan ini bisa diobati dengan beberapa terapi
seperti obat-obatan, psikoterapi, dukungan lingkungan, dan juga spiritual.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika, gangguan bipolar menyerang setidaknya
5,7 juta jiwa yang berusia di atas 18 tahun ke atas.
Anak-anak atau remaja diduga akan memiliki risiko 14
kali lebih mungkin terkena gejala bipolar. Dan menurut hasil penelitian yang
telah dilakukan oleh Archives of General Psychiatry, seorang anak akan memiliki
risiko dua sampai tiga kali lebih mungkin untuk mengalami kegelisahan atau
gangguan suasana hati seperti depresi.
Meskipun begitu, hal ini tidak bisa menjamin seorang
anak lantas akan mengalami hal yang sama dengan apa yang orang tuanya alami.
Boris Birmaher, M.D, psikiater dari Psychiatric Institute and Clinic di
Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, mengatakan hal serupa mengenai
faktor genetik gangguan bipolar yang akan diturunkan orang tua kepada anak.
"Anak-anak ini mungkin memang memiliki risiko
yang cukup tinggi, tapi bukan berarti setiap anak akan memiliki gangguan yang
sama," ujar Boris yang menjadi salah satu peneliti Pittsburgh Bipolar
Offspring Study seperti dikutip dari CNN.
Penelitian yang telah dilakukan oleh Birmaher menunjukkan
bahwa sebanyak 10,6 persen anak yang lahir dari orang tua yang mengalami
bipolar memiliki gangguan spektrum bipolar yang mencakup gejala ringan hinga
berat. Namun, hanya dua anak atau 0,8 persen di antaranya yang akan memiliki
gejala tersebut.
Boris juga menegaskan bahwa faktor lingkungan juga
bisa menjadi penyebab gangguan bipolar terjadi pada anak.




0 Reviews